Kamis, 22 Juli 2010

Metode Metode pengajaran dalam Pesantren



Metode sorogan?

Metode Wetonan?

Metode Muhawarah?

Metode Mudzakarah?

Metode Muhawarah?

Metode Hafalan ?

Metode Demontrasi?


Sejalan dengan perkembangan zaman, lembaga pendidikan pesantren juga tidak menutup diri untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan baik metode maupun tehnis dalam pelaksanaan pendidikan pesantren itu sendiri, meskipun demikian tidak semua pesantren mau membuka mengadakan inovasi serta pembaharuan terhadap metode pembelajaran yang ada
Pada awal berdirinya pondok pesantren, metode yang digunakan adalah metode wetonan dan sorogan bagi pondok non klasikal, pada perkembangan selanjutnya maka metode pembelajaran pondok pesantren mencoba untuk merenofasi metode yang ada tersebut untuk mengembangkan pada metode yang baru yaitu metode klasikal
Menurut beberapa ahli metode-metode pembelajaran yang ada dipondok pesantren, meliputi:
a. Metode Sorogan
Sistem pengajaran dengan pola sorogan dilaksanakan dengan jalan santri yang biasanya pandai menyodorkan sebuah kitab kepada kyai untuk dibaca dihadapan kyai itu. Dan kalau ada salahnya, kesalahan itu langsung dihadapi oleh kyai itu. Di pesantren besar sorogan dilakukan oleh dua atau tiga orang santri saja, yang biasa terdiri dari keluarga kyai atau santri-santri yang diharapkan kemudian hari menjadi orang alim.
b.
Pelaksanaan sistem pengajaran wetonan ini adalah sebagai berikut: kyai membaca suatu kitab dalam waktu tertentu, dan santri membawa kitab yang sama,.kemudian mendengarkan dan menyimak tentang bacaan kyai tersebut. Sistem pengajaran yang demikian seolah-olah sistem bebas, sebab absensi santri tidak ada, santri boleh datang boleh tidak, tidak ada sistem kenaikan kelas. Dan santri yang cepat menamatkan kitab boleh menyambung ke kitab yang lebih tinggi atau mempelajari kitab kitab yang lain. Seolah-olah sistem ini mendidik anak supaya kreatif dan dinamis, ditambah lagi sistem pengajaran wetonan ini lama belajar santri tidak tergantung kepada lamanya tahun belajar, tetapi berpatokan kepada kapan anak itu menamatkan kitab-kitab pelajaran yang telah di tetapkan.
c. Metode Muhawarah
Muhawarah adalah suatu kegiatan berlatih dengan bahasa Arab yang diwajibkan oleh pesantren kepada para santri selama mereka tinggal di pondok.
Dibeberapa pesantren, latihan muhawarah atau muhadasah tidak diwajibkan setiap hari, akan tetapi hanya satu kali atau dua kali dalam seminggu yang digabungkan dengan latihan muhadhoroh atau khitobah, yang tujuannya melatih keterampilan anak didik berpidato.
d. Metode Mudzakarah
Mudzakarah merupakan suatu pertemuan ilmiah yang secara spesifik membahas masalah diniyah seperti ibadah dan aqidah serta masalah agama pada umumnya
Dalam mudzakarah tersebut dapat di bedakan atas dua tingkat kegiatan:
Pertama: Mudzakarah diselenggarakan oleh sesama santri untuk membahas suatu masalah dengan tujuan, melatih para santri agar terlatih dalam memecahkan persoalan dengan mempergunakan kitab-kitab yang tersedia. Salah seorng santri mesti ditunjuk sebagai juru bicara untuk menyampaikan kesimpulan dari masalah yang didiskusikan
Kedua: Mudzakarah yang dipimpin oleh kyai, dimana hasil mudzakarah para santri diajukan untuk dibahas dan dinilai seperti dalam suatu seminar. Biasanya lebih banyak berisi Tanya jawab dan hampir seluruhnya diselenggarakan dalam bahasa Arab.
e. Metode Hafalan
Dalam metode ini para santri diberi tugas menghafal bacaan-bacaan dalam jangka waktu tertentu. Hafalan yang dimiliki oleh santri ini kemudian dihafalkan dihadapan kyai/ustadz secara periodic/incidental tergantung pada petunjuk kyai/ustadz yang bersangkutan. Materi pelajaran dengan metode hafalan umumnya berkenaan dengan Al Qur’an, nazham-nazham untuk nahwu, sharaf, tajwid ataupun untuk teks-teks nahwu, sharaf dan fiqih.
f. Metode Demontrasi
Metode ini adalah cara pembelajaran yang dilakukan dengan memperagakan (mendemostrasikan) suatu ketermpilan dalam hal pelaksaan ibadah tertentu yang dilakukan perseorangan maupun kelompok dibawah petunjuk dan bimbingan kyai/ustad dengan kegiatan sebagai berikut:
a) Para santri mendapatkan penjelasan/ teori tentang tata cara pelaksanaan ibadah yang akan dipraktekkan sampai mereka betul-betul memahaminya.
b) Para santri berdasarakan bimbingan para kyai/ustadz mempersiapkan segala peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk kegiatan praktek.
c) Setelah menentukan waktu dan tempat para santri berkumpul untuk menerima, penjelasan singkat berkenaan dengan urutan kegiatan yang ajan dilakukan serta pemberian tuga kepada para santri berkenaan dengan pelaksanaan praktek.
d) Para santri secara bergiliran/bergantian memperagakan pelaksanaan praktek ibadah tertentu dengan di bimbing dan diarahkan oleh kyai/ustadz sampai benar-benar sesuai kaifiat (tata cara pelaksanaan ibadah sesungguhnya)
e) Setelah selesai kegiatan praktek ibadah para santri diberi kesempatan menanyakan hal-hal yang dipandang perlu selama berlangsung kegiatan.

Peferensi :
Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam/Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren. 2004. Profil Pondok Pesantren Muaddalah. Depag RI.

Arifin, Imron . 1993. Kepemimpinan Kyai, Kasus Pondok Pesantren Tebu Ireng. Malang : Kalimasyahada Press.

Shaleh, Abdurrahman, dkk.1982. Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren. Depag RI.

Ghozali, M. Bahri.2002. Pesantren Berwawasan Lingkungan (Jakarta: Prasasti.

Comments :

0 komentar to “Metode Metode pengajaran dalam Pesantren”


Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.